Ketersediaan
Ketersediaan pangan berhubungan dengan suplai pangan
melalui produksi, distribusi, dan pertukaran. Produksi pangan ditentukan oleh
berbagai jenis faktor, termasuk kepemilikan lahan dan penggunaannya; jenis dan manajemen tanah; pemilihan, pemuliaan, dan
manajemen tanaman pertanian; pemuliaan dan manajemen hewan ternak; dan pemanenan. Produksi tanaman pertanian dapat dipengaruhi oleh
perubahan temperatur dan curah hujan. Pemanfaatan lahan, air, dan energi untuk
menumbuhkan bahan pangan seringkali berkompetisi dengan kebutuhan lain. Pemanfaatan
lahan untuk pertanian dapat berubah menjadi pemukiman atau hilang akibat desertifikasi, salinisasi, dan erosi tanah karena praktek pertanian yang tidak lestari. Produksi tanaman
pertanian bukanlah suatu kebutuhan yang mutlak bagi suatu negara untuk mencapai
ketahanan pangan. Jepang dan Singapura menjadi contoh bagaimana sebuah negara yang tidak
memiliki sumber daya alam untuk memproduksi bahan pangan namun mampu mencapai
ketahanan pangan.
Distribusi
pangan melibatkan
penyimpanan, pemrosesan, transportasi, pengemasan, dan pemasaran bahan pangan.
Infrastruktur rantai pasokan dan teknologi penyimpanan pangan juga dapat
mempengaruhi jumlah bahan pangan yang hilang selama distribusi. Infrastruktur
transportasi yang tidak memadai dapat menyebabkan peningkatan harga hingga ke
pasar global. Produksi pangan per kapita dunia sudah melebihi konsumsi per
kapita, namun di berbagai tempat masih ditemukan kerawanan pangan karena
distribusi bahan pangan telah menjadi penghalang utama dalam mencapai ketahanan
pangan.
Akses
Akses terhadap bahan pangan mengacu kepada kemampuan
membeli dan besarnya alokasi bahan pangan, juga faktor selera pada suatu individu
dan rumah tangga. PBB menyatakan bahwa penyebab kelaparan dan malnutrisi seringkali bukan disebabkan oleh kelangkaan bahan
pangan namun ketidakmampuan mengakses bahan pangan karena kemiskinan.
Kemiskinan membatasi akses terhadap bahan pangan dan juga meningkatkan
kerentanan suatu individu atau rumah tangga terhadap peningkatan harga bahan
pangan. Kemampuan akses bergantung pada besarnya pendapatan suatu rumah tangga
untuk membeli bahan pangan, atau kepemilikan lahan untuk menumbuhkan makanan
untuk dirinya sendiri. Rumah tangga dengan sumber daya yang cukup dapat
mengatasi ketidakstabilan panen dan kelangkaan pangan setempat serta mampu
mempertahankan akses kepada bahan pangan.
Terdapat dua perbedaan mengenai akses kepada bahan pangan. (1) Akses
langsung, yaitu rumah tangga memproduksi bahan pangan sendiri, (2) akses
ekonomi, yaitu rumah tangga membeli bahan pangan yang diproduksi di tempat
lain. Lokasi dapat mempengaruhi akses kepada bahan pangan dan jenis akses yang
digunakan pada rumah tangga tersebut. Meski demikian, kemampuan akses kepada
suatu bahan pangan tidak selalu menyebabkan seseorang membeli bahan pangan
tersebut karena ada faktor selera dan budaya. Demografi dan tingkat edukasi
suatu anggota rumah tangga juga gender menentukan keinginan memiih bahan pangan
yang diinginkannya sehingga juga mempengaruhi jenis pangan yang akan dibeli. USDA menambahkan bahwa
akses kepada bahan pangan harus tersedia dengan cara yang dibenarkan oleh
masyarakat sehingga makanan tidak didapatkan dengan cara memungut, mencuri,
atau bahkan mengambil dari cadangan makanan darurat ketika tidak sedang dalam
kondisi darurat.
Pemanfaatan
Ketika bahan pangan sudah didapatkan, maka berbagai
faktor mempengaruhi jumlah dan kualitas pangan yang dijangkau oleh anggota
keluarga. Bahan pangan yang dimakan harus aman dan memenuhi kebutuhan fisiologis
suatu individu. Keamanan pangan mempengaruhi pemanfaatan pangan dan dapat dipengaruhi oleh cara penyiapan,
pemrosesan, dan kemampuan memasak di suatu komunitas atau rumah tangga. Akses
kepada fasilitas kesehatan juga mempengaruhi pemanfaatan pangan karena
kesehatan suatu individu mempengaruhi bagaimana suatu makanan dicerna. Misal
keberadaan parasit di dalam usus dapat mengurangi kemampuan tubuh mendapatkan
nutrisi tertentu sehingga mengurangi kualitas pemanfaatan pangan oleh individu.
Kualitas sanitasi juga mempengaruhi keberadaan dan persebaran penyakit
yang dapat mempengaruhi pemanfaatan pangan sehingga edukasi mengenai nutrisi
dan penyiapan bahan pangan dapat mempengaruhi kualitas pemanfaatan pangan.
Stabilitas
Stabiitas pangan mengacu pada kemampuan suatu individu
dalam mendapatkan bahan pangan sepanjang waktu tertentu. Kerawanan pangan dapat
berlangsung secara transisi, musiman, ataupun kronis (permanen). Pada ketahanan
pangan transisi, pangan kemungkinan tidak tersedia pada suatu periode waktu
tertentu. Bencana alam dan kekeringan mampu
menyebabkan kegagalan panen dan mempengaruhi ketersediaan pangan pada tingkat
produksi. Konflik sipil juga dapat mempengaruhi akses kepada bahan pangan. Ketidakstabilan
di pasar menyebabkan peningkatan harga pangan sehingga juga menyebabkan
kerawanan pangan. Faktor lain misalnya hilangnya tenaga kerja atau
produktivitas yang disebabkan oleh wabah penyakit. Musim tanam mempengaruhi
stabilitas secara musiman karena bahan pangan hanya ada pada musim tertentu
saja. Kerawanan pangan permanen atau kronis bersifat jangka panjang dan
persisten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar