Senin, 25 Mei 2015

PEMUDA DAN PERTANIAN



“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya … Beri aku 10 pemuda niscaya akan Mengguncangkan dunia” ~Soekarno~…Pemuda memiliki potensi yang luar biasa besar dalam proses perubahan. Sosok pemuda yang biasanya muncul adalah gaya idealis, berani, mempunyai daya dobrak, kreatif, kritis dan lain-lain. Tidak keliru jika pemuda dianggap tulang punggung peradaban dan masa depan suatu bangsa.
Gaya hidup yang cenderung hedonis, hura-hura, buang waktu dengan fasilitas game on-line, terlalu memuja idola dan budaya instan menjadikan tantangan membangun karakter pemuda kita. Himpitan kurikulum, ekonomi, pengaruh budaya luar negeri yang belum tentu cocok sudah benar merasuk dalam model pendidikan pemuda kita. Seolah peran strategis pemuda secara perlahan akan mandul, tumpul dan tidak terarah.
Pertanian merupakan salah satu warisan anak cucu yang tidak bisa tergantikan oleh sektor lain. Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang pertanian. Masyarakat desa di Indonesia identik dengan sektor pertanian  dan sektor ini hampir dihuni oleh 70-80% dari total populasi  warga negara Indonesia. Oleh karenanya, tidak salah apabila Bangsa Indonesia  dikenal sebagai masyarakat agraris.  Itu berarti terdapat paling tidak sekitar 180 juta jiwa penduduk Indonesia yang dihidupi atau menggantungkan hidup dari sektor pertanian.    Mereka adalah petani yang bisa jadi adalah petani subsisten (peasant) yakni petani yang masih memikirkan kebutuhan hidupnya sehari-hari dan belum berorientasi market.  Atau pula petani bisnis (farmer) yaitu petani yang telah berhasil mengatasi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan telah berorientasi pasar.   Pada umumnya, masyarakat petani di Indonesia  adalah petani padi yang diperuntukkan dalam rangka mencukupi kebutuhan sehari-hari ataupun dijual untuk menutupi kebutuhan sektor rumah tangga, baik  untuk keperluan adat istiadat, sekolah anak ataupun pembayaran zakat, listrik dan lain sebagainya.  Mereka ini adalah bagian masyarakat yang kerap terabaikan dalam terma-terma kebijakan pembangunan.  Dimana,  keadaan mereka seringkali terjepit akibat ketiadaan kebijakan yang mampu menyentuh kehidupan mereka.
Golongan mereka ini adalah anggota masyarakat yang dari segi sosial ekonomi rumah tangga memiliki pendapatan yang serba pas-pasan.  Golongan mereka ini, bisa jadi adalah kaum pendatang yang menyewa lahan untuk pertanian, atau bisa juga mereka yang memiliki lahan relatif sempit ataupun buruh tani yang dipekerjakan di sawah-sawah atau ladang-ladang kaum elit desa.   Golongan masyarakat petani yang sedikit lebih maju adalah petani (farmer) yang telah berhasil mengatasi kebutuhan subsistensnya, sehingga mereka ini telah mengalihkan pola pertaniannya ke arah pasar. Yakni, pertanian yang melihat prospek pasar atau paling tidak, mereka ini telah dapat mengidentifikasi kemauan pasar, pola pertanian yang lebih maju seperti pemupukan yang lebih sempurna, penggunaan pestisida dan  yang terpenting adalah bahwa dari segi sosial ekonomi, mereka memiliki modal yang  cukup untuk mengembangkan pertaniannya. Bisa jadi mereka ini adalah kaum  konglomerat desa, ataupun pemodal yang turun dari kota dan memilih sektor pertanian sebagai lahan usahanya.     Namun demikian, persoalan yang justru timbul adalah bagaimanakah nasib petani kita, khususnya petani subsistens yang  dari segi sosial ekonomi tergolong masyarakat dengan pendapatan yang relatif rendah?.  Apakah kebijakan pemerintah telah berhasil meningkatkan status pertanian kita?.  Indonesia harusnya bisa menjadi penyuplai makanan dunia, dengan kelebihan luas areal pertanian dan iklim tropisnya bukan menjadi pengimpor. Menurut Chairul Tanjung dengan bertambahnya popoulasi dunia yang mencapai 8 M di tahun 2050 seharusnya kita bisa membidik peluang bisnis di FEW (Food, Energy & Water) tapi sayang kita menjadi pengimpor nomor wahid bidang pertanian dan agrobisnis.
Dewasa ini, konsentrasi pembangunan kita berada di perkotaan yakni dengan mengutamakan sektor industri ataupun jasa layanan publik.  Berbagai pembenahan dilakukan diperkotaan sehinga menarik laju urbanisasi yang meningkat dan menghasilkan masalah yang cukup kompleks mulai dari perburuhan, perumahan dan ruaknya lingkungan hidup. Disamping itu, membudayanya anggapan bahwa kota adalah cermin peradapan, telah pula menjadi daya tarik sendiri bagi daerah perkotaan. Akibatnya orang-orang dari desa berlomba-lomba datang kekota mengadu nasib mereka.  Ironisnya adalah bahwa kerap kali mereka itu tanpa dibekali oleh sejumlah pengetahuan yang cukup sehingga, sumber daya yang mereka miliki tidak banyak bermanfaat dikota. Akibatnya  adalah  bahwa mereka itu terpaksa memasuki sektor informal di perkotaan yang relatif lebih mudah untuk dimasuki.
Disamping itu, minimnya campur tangan pemerintah dalam mengelola pertanian masyarakat desa telah membuat desa relatif tertinggalkan. Geliat masyarakat untuk menggerakkan pertaniannya menjadi kendur akibat pola kebijakan pemerintah yang dinilai  bukan mendukung usaha mereka, tetapi justru mengelabui mereka.Lihat saja irigasi yang dulu dibangun di era orde baru dibiarkan rusak dan merana, sehingga petani harus mengeluarkan ongkos lebih untuk membeli diesel untuk menyedot air sebagai pangairan. Kemudian disisi peternakan pemerintah bukanya mendorong budidaya lokal tetapi justru mengimpor dari luar. Katakanlah tentang  upaya pemerintah baru-baru ini untuk melakukan import beras. Disatu sisi keputusan ini adalah bentuk pertanggungjawaban terhadap  sebagaian kecil masyarakat Indonesia yang tinggal diperkotaan yang konon  masuk dalam garis kemiskinan.
Saatnya pemuda di Indonesia melirik dan beralih untuk turut membangun pertanian di Indonesia. Jangan sampai lulusan-lulusan Universitas-Universitas pertanian kerjanya jadi teller bank atau sales mobil, harusnya mereka pemuda bisa menjadi motor penggerak kebangkitan pertanian Indonesia. Jika pemuda memualinya dari sekarang, jangan heran lima atau sepuluh tahun mendatang dunia akan gempar melihat kemajuan bidang pertanian dan kedigdayaan Indonesia makin dikagumi oleh negara lain. Seperti nenek moyang kita sejak zaman Tarumanegara, Sriwijaya dan Majapahit yang mengekspor hasil hutan dan pertanian terutama rempah-rempah sehingga membuat bangsa Eropa  menyebrangi lautan menjajah negeri kita tercinta, saatnya kita menjajah mereka.

Minggu, 29 Juni 2014

Tantangan ketahanan pangan




Degradasi lahan
Pertanian intensif mendorong terjadinya penurunan kesuburan tanah dan penurunan hasil. Diperkirakan 40% dari lahan pertanian di dunia terdegradasi secara serius. Di Afrika, jika kecenderungan degradasi tanah terus terjadi, maka benua itu hanya mampu memberi makan seperempat penduduknya saja pada tahun 2025.

Hama dan penyakit
Hama dan penyakit mampu mempengaruhi produksi budi daya tanaman dan peternakan sehingga memiliki dampak bagi ketersediaan bahan pangan. Contoh penyakit tanaman Ug99, salah satu tipe penyakit karat batang pada gandum dapat menyebabkan kehilangan hasil pertanian hingga 100%. Penyakit ini telah ada di berbagai negara di Afrika dan Timur Tengah. Terganggunya produksi pangan di wilayah ini diperkirakan mampu mempengaruhi ketahanan pangan global.  Keanekaragaman genetika dari kerabat liar gandum dapat digunakan untuk memperbarui varietas modern sehingga lebih tahan terhadap karat batang. Gandum liar ini dapat diseleksi di habitat aslinya untuk mencari varietas yang tahan karat, lalu informasi genetikanya dipelajari. Terakhir varietas modern dan varietas liar disilangkan dengan pemuliaan tanaman modern untuk memindahkan gen dari varietas liar ke varietas modern.

Krisis air global
Kanal irigasi telah menjadikan kawasan padang pasir yang kering di Mesir menjadi lahan pertanian.  Berbagai negara di dunia telah melakukan importasi gandum yang disebabkan oleh terjadinya defisit air, dan kemungkinan akan terjadi pada negara besar seperti China dan India. Tinggi muka air tanah terus menurun di beberapa negara dikarenakan pemompaan yang berlebihan. China dan India telah mengalaminya, dan negara tetangga mereka (Pakistan, Afghanistan, dan Iran) telah terpengaruh hal tersebut. Hal ini akan memicu kelangkaan air dan menurunkan produksi tanaman pangan. Ketika produksi tanaman pangan menurun, harga akan meningkat karena populasi terus bertambah. Pakistan saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan pangan di dalam negerinya, namun dengan peningkatan populasi 4 juta jiwa per tahun, Pakistan kemungkinan akan melirik pasar dunia dalam memenuhi kebutuhan pangannya, sama seperti negara lainnya yang telah mengalami defisit air seperti Afghanistan, Ajlazair, Mesir, Iran, Meksiko, dan Pakistan.  Secara regional, kelangkaan air di Afrika adalah yang terbesar dibandingkan negara lainnya di dunia. Dari 800 juta jiwa, 300 juta penduduk Afrika telah hidup di lingkungan dengan stres air. Karena sebagian besar penduduk Afrika masih bergantung dengan gaya hidup berbasis pertanian dan 80-90% penduduk desa memproduksi pangan mereka sendiri, kelangkaan air adalah sama dengan hilangnya ketahanan pangan.  Investasi jutaan dolar yang dimulai pada tahun 1990an oleh Bank Dunia telah mereklamasi padang pasir dan mengubah lembah Ica yang kering di Peru menjadi pensuplai asparagus dunia. Namun tinggi muka air tanah terus menurun karena digunakan sebagai irigasi secara terus menerus. Sebuah laporan pada tahun 2010 menyimpulkan bahwa industri ini tidak bersifat lestari. Mengubah arah aliran air sungai Ica ke lahan asparagus juga telah menyebabkan kelangkaan air bagi masyarakat pribumi yang hidup sebagai penggembala hewan ternak.

Perebutan lahan
Kepemilikan lahan lintas batas negara semakin meningkat. Perusahaan Korea Utara Daewoo Logistics telah mengamankan satu bidang lahan yang luas di Madagascar untuk mebudidayakan jagung dan tanaman pertanian lainnya untuk produksi biofuel. Libya telah mengamankan 250 ribu hektare lahan di Ukraina dan sebagai gantinya Ukraina mendapatkan akses ke sumber gas alam di Libya. China telah memulai eksplorasi lahan di sejumlah tempat di Asia Tenggara. Negara di semenanjung Arab telah mencari lahan di Sudan, Ethiopia, Ukraina, Kazakhstan, Pakistan, Kamboja, dan Thailand. Qatar berencana menyewa lahan di sepanjang panyai di Kenya untuk menumbuhkan sayuran dan buah, dan sebagai gantinya akan membangun pelabuhan besar dekat Lamu, pulau di samudra Hindia yang menjadi tujuan wisata.

Perubahan iklim
Fenomena cuaca yang ekstrim seperti kekeringan dan banjir diperkirakan akan meningkat karena perubahan iklim terjadi. Kejadian ini akan memiliki dampak di sektor pertanian. Diperkirakan pada tahun 2040, hampir seluruh kawasan sungai Nil akan menjadi padang pasir di mana aktivitas budi daya tidak dimungkinkan karena keterbatasan air. Dampak dari cuaca ekstrem mencakup perubahan produktivitas, gaya hidup, pendapatan ekonomi, infrastruktur, dan pasar. Ketahanan pangan di masa depan akan terkait dengan kemampuan adaptasi budi daya bercocok tanam masyarakat terhadap perubahan iklim. Di Honduras, perempuan Garifuna membantuk meningkatkan ketahanan pangan lokal dengan menanam tanaman umbi tradisional sambil membangun metode konservasi tanah, melakukan pelatihan pertanian organik dan menciptakan pasar petani Garifuna. Enam belas kota telah bekerja sama membangun bank benih dan peralatan pertanian. Upaya untuk membudidayakan spesies pohon buah liar di sepanjang pantai membantu mencegah erosi tanah.
Diperkirakan 2.4 miliar penduduk hidup di daerah tangkapan air hujan di sekitar Himalaya. Negara di sekitar Himalaya (India, Pakistan, China, Afghanistan, Bangladesh, Myanmar, dan Nepal) dapat mengalami banjir dan kekeringan pada dekade mendatang. Bahkan di India, sungan Ganga menjadi sumber air minum dan irigasi bagi 500 juta jiwa. Sungai yang bersumber dari gletser juga akan terpengaruh. Kenaikan permukaan laut diperkirakan akan meningkat seiring meningkatnya temperatur bumi, sehingga akan mengurangi sejumlah lahan yang dapat digunakan untuk pertanian.
Semua dampak dari perubahan iklim ini berpotensi mengurangi hasil pertanian dan peningkatan harga pangan akan terjadi. Diperkirakan setiap peningkatan 2.5% harga pangan, jumlah manusia yang kelaparan akan meningkat 1%. Berubahnya periode dan musim tanam akan terjadi secara drastis dikarenakan perubahan temperatur dan kelembaban tanah.


Sabtu, 28 Juni 2014

Pilar ketahanan pangan



Ketersediaan
Ketersediaan pangan berhubungan dengan suplai pangan melalui produksi, distribusi, dan pertukaran. Produksi pangan ditentukan oleh berbagai jenis faktor, termasuk kepemilikan lahan dan penggunaannya; jenis dan manajemen tanah; pemilihan, pemuliaan, dan manajemen tanaman pertanian; pemuliaan dan manajemen hewan ternak; dan pemanenan. Produksi tanaman pertanian dapat dipengaruhi oleh perubahan temperatur dan curah hujan. Pemanfaatan lahan, air, dan energi untuk menumbuhkan bahan pangan seringkali berkompetisi dengan kebutuhan lain. Pemanfaatan lahan untuk pertanian dapat berubah menjadi pemukiman atau hilang akibat desertifikasi, salinisasi, dan erosi tanah karena praktek pertanian yang tidak lestari. Produksi tanaman pertanian bukanlah suatu kebutuhan yang mutlak bagi suatu negara untuk mencapai ketahanan pangan. Jepang dan Singapura menjadi contoh bagaimana sebuah negara yang tidak memiliki sumber daya alam untuk memproduksi bahan pangan namun mampu mencapai ketahanan pangan.
Distribusi pangan melibatkan penyimpanan, pemrosesan, transportasi, pengemasan, dan pemasaran bahan pangan. Infrastruktur rantai pasokan dan teknologi penyimpanan pangan juga dapat mempengaruhi jumlah bahan pangan yang hilang selama distribusi. Infrastruktur transportasi yang tidak memadai dapat menyebabkan peningkatan harga hingga ke pasar global. Produksi pangan per kapita dunia sudah melebihi konsumsi per kapita, namun di berbagai tempat masih ditemukan kerawanan pangan karena distribusi bahan pangan telah menjadi penghalang utama dalam mencapai ketahanan pangan. 

Akses
Akses terhadap bahan pangan mengacu kepada kemampuan membeli dan besarnya alokasi bahan pangan, juga faktor selera pada suatu individu dan rumah tangga. PBB menyatakan bahwa penyebab kelaparan dan malnutrisi seringkali bukan disebabkan oleh kelangkaan bahan pangan namun ketidakmampuan mengakses bahan pangan karena kemiskinan. Kemiskinan membatasi akses terhadap bahan pangan dan juga meningkatkan kerentanan suatu individu atau rumah tangga terhadap peningkatan harga bahan pangan. Kemampuan akses bergantung pada besarnya pendapatan suatu rumah tangga untuk membeli bahan pangan, atau kepemilikan lahan untuk menumbuhkan makanan untuk dirinya sendiri. Rumah tangga dengan sumber daya yang cukup dapat mengatasi ketidakstabilan panen dan kelangkaan pangan setempat serta mampu mempertahankan akses kepada bahan pangan.
Terdapat dua perbedaan mengenai akses kepada bahan pangan. (1) Akses langsung, yaitu rumah tangga memproduksi bahan pangan sendiri, (2) akses ekonomi, yaitu rumah tangga membeli bahan pangan yang diproduksi di tempat lain. Lokasi dapat mempengaruhi akses kepada bahan pangan dan jenis akses yang digunakan pada rumah tangga tersebut. Meski demikian, kemampuan akses kepada suatu bahan pangan tidak selalu menyebabkan seseorang membeli bahan pangan tersebut karena ada faktor selera dan budaya. Demografi dan tingkat edukasi suatu anggota rumah tangga juga gender menentukan keinginan memiih bahan pangan yang diinginkannya sehingga juga mempengaruhi jenis pangan yang akan dibeli. USDA menambahkan bahwa akses kepada bahan pangan harus tersedia dengan cara yang dibenarkan oleh masyarakat sehingga makanan tidak didapatkan dengan cara memungut, mencuri, atau bahkan mengambil dari cadangan makanan darurat ketika tidak sedang dalam kondisi darurat. 

Pemanfaatan
Ketika bahan pangan sudah didapatkan, maka berbagai faktor mempengaruhi jumlah dan kualitas pangan yang dijangkau oleh anggota keluarga. Bahan pangan yang dimakan harus aman dan memenuhi kebutuhan fisiologis suatu individu.  Keamanan pangan mempengaruhi pemanfaatan pangan dan dapat dipengaruhi oleh cara penyiapan, pemrosesan, dan kemampuan memasak di suatu komunitas atau rumah tangga. Akses kepada fasilitas kesehatan juga mempengaruhi pemanfaatan pangan karena kesehatan suatu individu mempengaruhi bagaimana suatu makanan dicerna. Misal keberadaan parasit di dalam usus dapat mengurangi kemampuan tubuh mendapatkan nutrisi tertentu sehingga mengurangi kualitas pemanfaatan pangan oleh individu. Kualitas sanitasi juga mempengaruhi keberadaan dan persebaran penyakit yang dapat mempengaruhi pemanfaatan pangan sehingga edukasi mengenai nutrisi dan penyiapan bahan pangan dapat mempengaruhi kualitas pemanfaatan pangan.

Stabilitas
Stabiitas pangan mengacu pada kemampuan suatu individu dalam mendapatkan bahan pangan sepanjang waktu tertentu. Kerawanan pangan dapat berlangsung secara transisi, musiman, ataupun kronis (permanen). Pada ketahanan pangan transisi, pangan kemungkinan tidak tersedia pada suatu periode waktu tertentu. Bencana alam dan kekeringan mampu menyebabkan kegagalan panen dan mempengaruhi ketersediaan pangan pada tingkat produksi. Konflik sipil juga dapat mempengaruhi akses kepada bahan pangan. Ketidakstabilan di pasar menyebabkan peningkatan harga pangan sehingga juga menyebabkan kerawanan pangan. Faktor lain misalnya hilangnya tenaga kerja atau produktivitas yang disebabkan oleh wabah penyakit. Musim tanam mempengaruhi stabilitas secara musiman karena bahan pangan hanya ada pada musim tertentu saja. Kerawanan pangan permanen atau kronis bersifat jangka panjang dan persisten.

Jumat, 27 Juni 2014

Ketahanan Pangan



Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan. Ketahanan pangan merupakan ukuran kelentingan terhadap gangguan di masa depan atau ketiadaan suplai pangan penting akibat berbagai faktor seperti kekeringan, gangguan perkapalan, kelangkaan bahan bakar, ketidak stabilan ekonomi, peperangan, dan sebagainya. Penilaian ketahanan pangan dibagi menjadi keswadayaan atau keswasembadaan perorangan (self-sufficiency) dan ketergantungan eksternal yang membagi serangkaian faktor risiko. Meski berbagai negara sangat menginginkan keswadayaan secara perorangan untuk menghindari risiko kegagalan transportasi, namun hal ini sulit dicapai di negara maju karena profesi masyarakat yang sudah sangat beragam dan tingginya biaya produksi bahan pangan jika tidak diindustrialisasikan. Kebalikannya, keswadayaan perorangan yang tinggi tanpa perekonomian yang memadai akan membuat suatu negara memiliki kerawanan produksi.

World Health Organization mendefinisikan tiga komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Ketersediaan pangan adalah kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Akses pangan adalah kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi. Pemanfaatan pangan adalah kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. FAO menambahkan komponen keempat, yaitu kestabilan dari ketiga komponen tersebut dalam kurun waktu yang panjang. 

Kebijakan sebuah negara dapat mempengaruhi akses masyarakat kepada bahan pangan, seperti yang terjadi di India. Majelis tinggi India menyetujui rencana ambisius untuk memberikan subsidi bagi dua pertiga populasi negara itu. Rancangan Undang-Undang Ketahanan Pangan ini mengusulkan menjadikan pangan sebagai hak warga negara dan akan memberikan lima kilogram bahan pangan berharga murah per bulan untuk 800 juta penduduk miskinnya.
Source: wikipedia